Warek III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A. Dorong Ansor Pijay Perkuat Militansi dan Loyalitas

Warek III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A. Dorong Ansor Pijay Perkuat Militansi dan Loyalitas

Warek III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A. Dorong Ansor Pijay Perkuat Militansi dan Loyalitas

TRN

Oleh Tim Redaksi TRN

Editor: DM • Kamis, 27 Agustus 2026. 10.00 Wib

Wakil Rektor III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin
Wakil Rektor III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A., saat memberikan pemaparan dalam seminar GP Ansor di Aula MPU Pidie Jaya.

PIDIE JAYA — Semangat penguatan organisasi dan peningkatan militansi kader kembali digaungkan dalam Seminar bertema “Transformasi Pengurus, Akselerasi Gerakan Organisasi” yang digelar di Aula MPU Pidie Jaya, Kamis (27/8/2026).

Seminar tersebut menghadirkan Wakil Rektor III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A., sebagai narasumber utama. Di hadapan jajaran pengurus Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pidie Jaya dan sejumlah badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU), ia secara tegas membakar semangat kader agar tidak menjadikan organisasi sekadar wadah formalitas. Sebaliknya, organisasi harus menjadi ruang pengabdian yang hidup, produktif, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin menekankan bahwa berorganisasi di GP Ansor merupakan perpaduan harmonis antara dedikasi sosial-keagamaan dan profesionalisme manajerial. Karena itu, keberadaan pengurus tidak cukup hanya ditandai dengan seremoni pelantikan dan susunan struktur semata, tetapi harus diwujudkan melalui komitmen serta eksekusi kerja di lapangan.

Organisasi Sebagai Satu Kesatuan Tubuh

Menurutnya, tantangan mengelola organisasi kemasyarakatan di Aceh tidaklah ringan. Ia menyoroti fenomena umum di mana banyak organisasi hanya tampak aktif pada momentum tertentu, lalu mengalami hibernasi atau penurunan aktivitas drastis setelah perhelatan usai.

“Organisasi itu bagaikan satu tubuh. Setiap organ memiliki fungsi masing-masing. Jika ada satu organ yang tidak berfungsi, maka tubuh akan mengalami gangguan. Begitu juga organisasi, seluruh pengurus harus bergerak dan mengambil peran sesuai tugasnya,” tegas Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin.

Memaknai Ulang Militansi Kader

Lebih jauh, ia menyebut mental militansi sebagai ruh sekaligus bahan bakar utama pergerakan organisasi, khususnya bagi entitas yang dibangun di atas pondasi kesukarelaan. Ia menggarisbawahi bahwa militansi tidak boleh disalahartikan.

Militansi, urainya, bukan berarti sikap agresif atau pemikiran radikal, melainkan merepresentasikan daya juang yang tinggi, komitmen pantang menyerah, serta dedikasi yang teguh terhadap visi besar organisasi.

“Kalau militansi sudah hilang, organisasi jangan sampai hanya mengarah kepada maliyah (materi), bukan lagi amaliyah (tindakan dan pengabdian),” ujarnya mengingatkan pentingnya menjaga kiblat pergerakan.

Kader yang militan dipastikan tidak bekerja atas dasar pamrih materi maupun ambisi jabatan. Mereka dengan sukarela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan materi demi memastikan roda program organisasi berjalan tuntas. Di saat krisis atau menghadapi kendala teknis, kader militan tidak akan mudah patah arang, melainkan terdorong mengambil inisiatif mencari solusi kreatif.

Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin kemudian menguraikan empat pilar mengapa militansi mutlak diperlukan:

  1. Bahan Bakar Utama: Menjadi motor penggerak bagi organisasi yang bertumpu pada asas kesukarelaan.
  2. Daya Tahan Operasional: Menjadikan kader lebih tahan banting saat organisasi dirundung keterbatasan dana, fasilitas, maupun rintangan geografis di lapangan.
  3. Ketahanan Mental: Membangun benteng psikologis agar kader tidak mudah mengalami burnout (kelelahan mental) dan tidak mudah terbawa perasaan (baper) menghadapi friksi dan dinamika internal.
  4. Perekat Solidaritas: Menjaga ritme konsistensi gerakan sekaligus mempererat ikatan persaudaraan antaranggota.
Suasana Seminar GP Ansor Pidie Jaya
Suasana peserta saat mengikuti Seminar “Transformasi Pengurus, Akselerasi Gerakan Organisasi” GP Ansor di Aula MPU Pidie Jaya.

Manajemen Sehat dan Seni Merawat Loyalitas

Namun, militansi saja tidak cukup. Ia mengingatkan para pimpinan organisasi tentang pentingnya membangun budaya dan ekosistem kerja yang sehat. Militansi kader di akar rumput harus ditopang oleh sistem manajemen manajerial yang baik dari pucuk pimpinan. Ini mencakup pembagian tugas yang terstruktur, komunikasi yang mengedepankan empati, serta apresiasi yang berkesinambungan. Tanpa itu, semangat pengabdian berisiko berubah wujud menjadi beban psikis bagi anggota.

Terkait isu loyalitas, ia mengidentifikasi beberapa “virus” yang kerap menggerus keterikatan anggota, di antaranya: kesenjangan antara nilai ideal dan praktik realitas di organisasi, miskomunikasi, konflik internal yang dibiarkan berlarut, ketidakjelasan arah peta jalan strategis, serta minimnya pengakuan atas jerih payah anggota.

Oleh sebab itu, pimpinan didorong untuk aktif meretas sekat komunikasi yang kaku, merumuskan instruksi yang gamblang, menetapkan target yang realistis dan terukur, serta memfasilitasi ruang-ruang dialog yang egaliter.

“Anggota yang loyal dan bekerja dengan baik harus diberikan apresiasi. Mereka harus merasa bahwa keberadaan dan kontribusinya dihargai oleh organisasi,” pesannya.

Bentuk apresiasi, tambahnya, tidak selalu identik dengan rupiah. Pengakuan verbal secara terbuka di forum, memberi panggung bagi ide-ide segar dari kader muda, hingga tradisi merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil (small wins) adalah instrumen ampuh untuk merawat loyalitas.

Menutup sesi utamanya, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin mengajak GP Ansor Pidie Jaya untuk memformulasikan karakter organisasi yang memiliki distingsi lokal sesuai kultur sosiologis masyarakat Pidie Jaya, sembari tetap tegak lurus pada manhaj dan visi besar Nahdlatul Ulama.

Sinergi Mesin Penggerak NU

Senada dengan hal tersebut, dalam sesi pembukaan, Tgk. Muhammad, S.Pd., M.Pd. menekankan urgensi soliditas antarseluruh elemen Banom NU. Ia berharap denyut nadi organisasi tidak hanya berdetak kencang saat seremonial pelantikan, lalu mendadak henti jantung pasca-acara.

Ia menganalogikan seluruh Banom NU sebagai “mesin-mesin” raksasa penggerak NU di Pidie Jaya yang diwajibkan untuk terus menyala, berputar, dan berorkestrasi mengeksekusi program keumatan.

Acara yang dipandu lugas oleh Tgk. Barral Muharram, S.Pd. ini turut dihadiri lintas tokoh dan kader, di antaranya jajaran pengurus GP Ansor Pidie Jaya, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pidie Jaya, serta sahabat-sahabat dari IPNU, IPPNU, PMII, dan delegasi ormas Islam lainnya.

Penyelenggaraan seminar ini diharapkan tidak sekadar menjadi catatan kegiatan administratif, melainkan menjadi titik tolak transformasi mendasar dari sebatas jajaran pengurus struktural menjadi agen penggerak yang progresif. Melalui sintesis antara militansi, loyalitas, manajerial yang rapi, dan solidaritas komunal, GP Ansor dan Banom NU Pidie Jaya diyakini mampu melampaui kebanggaan struktural menuju kebermanfaatan sosial yang konkret. (DM)

© 2026 Portal Berita Nasional. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *