Mengejar Viral, Kehilangan Moral: Tantangan Remaja di Era Digital
Ketika jempol bergerak lebih cepat daripada akal sehat, batas adab dan kehormatan sering kali menjadi taruhan demi popularitas belasan detik.
Tgk Muhammad, S.Pd., M.Pd.
Sekretaris PC GP Ansor Pidie Jaya & Praktisi Pendidikan
Layar gawai berukuran beberapa inci kini telah menjelma menjadi pusat gravitas kehidupan generasi muda. Di sana, sebuah ekosistem baru berdiri dengan hukumnya sendiri: hukum keterkenalan instan. Angka-angka dipuja bak tolak ukur martabat, mulai dari jumlah tayangan, deretan like, tumpukan komentar, hingga jumlah pengikut. Dalam riuk algoritma media sosial yang rakus perhatian, apresiasi sering kali tak lagi diberikan kepada kedalaman ilmu atau keluhuran budi, melainkan kepada siapa yang paling riuh menciptakan sensasi.
Fenomena mengejar keterkenalan digital ini pelan-pelan melahirkan krisis moral yang kasat mata. Demi satu atau dua detik perhatian di layar kaca, batas kepantasan dan etika kerap diterabas. Konten berisi umpatan bahasa kasar, aksi saling mengejek, tindakan mempermalukan orang lain di depan publik, hingga eksperimen sosial yang merendahkan martabat manusia kian jamak ditemukan. Jempol bekerja jauh lebih cepat ketimbang akal sehat. Ada adab yang pelan-pelan tanggal demi popularitas belasan detik.
Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan terbesar era digital bukanlah kegagalan menguasai teknologi, melainkan krisis kepribadian dalam menggunakannya. Perkembangan teknologi yang masif tanpa diimbangi penguatan nilai agama dan karakter hanya akan melahirkan generasi yang kaya interaksi digital, namun miskin substansi moral.
“Jangan sampai kita mengejar viralitas, tetapi kehilangan adab. Jangan sampai jumlah like bertambah, tetapi rasa hormat kepada orang tua, guru, dan sesama justru berkurang.”
Teknologi Bukan Musuh, Melainkan Ujian Alat
Sejatinya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi dimusuhi secara membabi buta. Ruang digital adalah ruang netral. Di tangan yang tepat, ia menjelma sarana luar biasa untuk menyebarkan ilmu, menggemakan dakwah yang menyejukkan, membagikan karya kreatif, hingga memperluas jaringan silaturahmi tanpa sekat geografis.
Letak persoalannya ada pada daya saring (*filter*) pengguna. Di tengah banjir informasi yang tak bersudut, anak muda dituntut memiliki kecerdasan kritis: tidak semua yang viral harus diikuti, dan tidak semua yang populer layak dijadikan teladan. Kemampuan untuk menyeleksi apa yang dilihat, didengar, ditiru, serta dibagikan adalah benteng pertahanan pertama karakter remaja.
Aceh, misalnya, dengan kekayaan tradisi keagamaan, nilai sosial lokal, serta pendidikan dayah yang mengakar kuat, selalu menempatkan *adab* di atas ilmu. Prinsip ini bernilai universal dan sangat relevan untuk konteks Indonesia saat ini. Pendidikan karakter dan penanaman etika harus hadir sebagai penyeimbang, agar pesatnya digitalisasi tidak mencabut generasi muda dari akar budaya dan jati diri bangsanya.
Sinergi Kolektif: Menjaga Jempol dan Akal
Menyelamatkan generasi muda dari pusaran konten nir-etika tidak bisa dibebankan kepada remaja itu sendiri. Dibutuhkan peran aktif dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat: orang tua di rumah, guru di sekolah, teungku dan ulama di ruang-ruang kajian, hingga pembuat kebijakan publik.
Pendampingan digital (*digital parenting*) harus bergeser dari sekadar melarang penggunaan gawai menjadi mengajarkan tanggung jawab moral di ruang siber. Remaja perlu diajak memahami bahwa setiap unggahan, komentar, dan tombol *share* yang mereka tekan membawa konsekuensi logis terhadap rekam jejak digital serta kehormatan diri mereka.
Pada akhirnya, sebanyak apa pun jumlah like, share, dan followers yang berhasil diraih, semuanya tidak akan pernah sanggup menggantikan tingginya nilai sebuah akhlak. Popularitas digital bersifat fana dapat melambung tinggi dalam hitungan jam dan runtuh dalam hitungan detik. Namun, adab, ilmu, dan manfaat nyata yang ditanamkan akan memberikan dampak abadi bagi peradaban.
Pilihan kini berada di tangan anak muda: ingin dikenali sebatas fenomena sesaat yang riuh, atau diingat sebagai pribadi berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi sesama.
